Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan sikap, nilai, dan karakter.
Dalam konteks pendidikan, bahasa memiliki peran strategis karena menjadi media utama dalam penyampaian ilmu pengetahuan dan pembinaan peserta didik. Oleh karena itu, pemilihan bahasa yang tepat, santun, dan kontekstual menjadi kebutuhan penting dalam dunia pedagogis.Salah satu fenomena kebahasaan yang berkaitan erat dengan kesantunan berbahasa adalah eufimisme. Dalam kajian bahasa Arab, eufimisme dikenal dengan Al-Talthif (التلطيف) atau Husnu al-Ibarah (حسن العبارة) sebagai bentuk penghalusan ungkapan untuk menggantikan kata atau makna yang dianggap kasar, tabu, atau sensitif. Penggunaan eufimisme ini tidak hanya ditemukan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga dalam Al-Qur’an, hadis, sastra Arab, serta praktik pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa eufimisme memiliki nilai linguistik sekaligus nilai pedagogis yang signifikan.
Secara umum, eufimisme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memperhalus makna dengan cara mengganti kata atau ungkapan yang kurang pantas dengan ungkapan lain yang lebih sopan dan dapat diterima secara sosial. Dalam linguistik modern, eufimisme dipahami sebagai strategi bahasa yang berkaitan dengan norma sosial, psikologi penutur, serta konteks komunikasi.
Dalam bahasa Arab, eufimisme sering disebut dengan istilah التلطيف اللغوي atau التعبير المهذب, yaitu ungkapan yang digunakan untuk menjaga adab, kehormatan, dan perasaan lawan bicara. Para ahli bahasa Arab menilai bahwa eufimisme merupakan bagian dari kekayaan stilistika bahasa Arab yang mencerminkan kehalusan budaya dan etika berbahasa masyarakat Arab.
Contoh eufimisme dalam bahasa Arab antara lain: “انتقل إلى رحمة الله” sebagai pengganti “مات” “ذو احتياجات خاصة” sebagai pengganti ungkapan yang berkonotasi merendahkan
Eufimisme sebagai Strategi Instruksional yang beradab
- Manajemen Afektif dan Filter Psikologis
Mengacu pada teori Affective Filter milik Stephen Krashen, kecemasan yang tinggi dapat menghambat pembelajaran. Guru yang menggunakan kritik eufimistis (misalnya: "Jawabanmu kreatif, namun perlu diselaraskan dengan teks") membantu menurunkan dinding pertahanan mental siswa. Hal ini menjaga harga diri (self-esteem) siswa agar tetap berani bereksperimen dengan bahasa. - Modeling Karakter (Al-Tarbiya bil-Uswah)
Pendidik adalah model hidup. Saat guru menggunakan bahasa yang halus (Lahn al-Qawl), siswa secara tidak sadar menginternalisasi nilai-nilai kesantunan tersebut. Ini selaras dengan konsep Adab al-Lisan dalam pendidikan Islam, di mana kecerdasan kognitif harus berjalan beriringan dengan kehalusan budi pekerti. - Reduksi Konflik di Ruang Kelas
Ruang kelas adalah lingkup sosial yang rentan gesekan. Eufimisme berfungsi sebagai "pelumas" sosial. Ungkapan seperti "Mungkin kalian kurang fokus" jauh lebih efektif dalam mengembalikan ketertiban kelas dibandingkan kalimat "Kalian sangat ribut dan tidak sopan". “Jawaban ini masih bisa disempurnakan” sebagai pengganti “Jawabanmu salah”.“Kamu memiliki potensi, tinggal lebih rajin berlatih” sebagai pengganti “Kamu kurang mampu”.
Penulis: Zahir Zarir, M.Pd
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Jabatan: Wakil Kepala Madrasah Bid. Kesiswaan


0 Komentar