GpOoBUr8TSr8GfCpGpr6BSOiGd==
  • 0852-4410-5744

Estetika Eufimisme dalam Bahasa Arab dan Signifikansi Pedagogisnya

Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan sikap, nilai, dan karakter.

Dalam konteks pendidikan, bahasa memiliki peran strategis karena menjadi media utama dalam penyampaian ilmu pengetahuan dan pembinaan peserta didik. Oleh karena itu, pemilihan bahasa yang tepat, santun, dan kontekstual menjadi kebutuhan penting dalam dunia pedagogis.

Salah satu fenomena kebahasaan yang berkaitan erat dengan kesantunan berbahasa adalah eufimisme. Dalam kajian bahasa Arab, eufimisme dikenal dengan Al-Talthif (التلطيف) atau Husnu al-Ibarah (حسن العبارة) sebagai bentuk penghalusan ungkapan untuk menggantikan kata atau makna yang dianggap kasar, tabu, atau sensitif. Penggunaan eufimisme ini tidak hanya ditemukan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga dalam Al-Qur’an, hadis, sastra Arab, serta praktik pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa eufimisme memiliki nilai linguistik sekaligus nilai pedagogis yang signifikan.

Secara umum, eufimisme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memperhalus makna dengan cara mengganti kata atau ungkapan yang kurang pantas dengan ungkapan lain yang lebih sopan dan dapat diterima secara sosial. Dalam linguistik modern, eufimisme dipahami sebagai strategi bahasa yang berkaitan dengan norma sosial, psikologi penutur, serta konteks komunikasi.

Dalam bahasa Arab, eufimisme sering disebut dengan istilah التلطيف اللغوي atau التعبير المهذب, yaitu ungkapan yang digunakan untuk menjaga adab, kehormatan, dan perasaan lawan bicara. Para ahli bahasa Arab menilai bahwa eufimisme merupakan bagian dari kekayaan stilistika bahasa Arab yang mencerminkan kehalusan budaya dan etika berbahasa masyarakat Arab.

Contoh eufimisme dalam bahasa Arab antara lain: “انتقل إلى رحمة الله” sebagai pengganti “مات” “ذو احتياجات خاصة” sebagai pengganti ungkapan yang berkonotasi merendahkan

Eufimisme sebagai Strategi Instruksional yang beradab

Dalam ranah pedagogi (ilmu mengajar), eufimisme beralih fungsi dari sekadar gaya bahasa menjadi strategi psikologis:
  1. Manajemen Afektif dan Filter Psikologis
    Mengacu pada teori Affective Filter milik Stephen Krashen, kecemasan yang tinggi dapat menghambat pembelajaran. Guru yang menggunakan kritik eufimistis (misalnya: "Jawabanmu kreatif, namun perlu diselaraskan dengan teks") membantu menurunkan dinding pertahanan mental siswa. Hal ini menjaga harga diri (self-esteem) siswa agar tetap berani bereksperimen dengan bahasa.

  2. Modeling Karakter (Al-Tarbiya bil-Uswah)
    Pendidik adalah model hidup. Saat guru menggunakan bahasa yang halus (Lahn al-Qawl), siswa secara tidak sadar menginternalisasi nilai-nilai kesantunan tersebut. Ini selaras dengan konsep Adab al-Lisan dalam pendidikan Islam, di mana kecerdasan kognitif harus berjalan beriringan dengan kehalusan budi pekerti.

  3. Reduksi Konflik di Ruang Kelas
    Ruang kelas adalah lingkup sosial yang rentan gesekan. Eufimisme berfungsi sebagai "pelumas" sosial. Ungkapan seperti "Mungkin kalian kurang fokus" jauh lebih efektif dalam mengembalikan ketertiban kelas dibandingkan kalimat "Kalian sangat ribut dan tidak sopan". “Jawaban ini masih bisa disempurnakan” sebagai pengganti “Jawabanmu salah”.“Kamu memiliki potensi, tinggal lebih rajin berlatih” sebagai pengganti “Kamu kurang mampu”.
Eufimisme dalam pedagogi bukan berarti mengaburkan fakta objektif, melainkan memilih "wadah" yang paling layak untuk menyampaikan kebenaran tersebut agar dapat diterima oleh akal dan hati. Dengan demikian, Jika pendidik menerapkan eufimisme dalam pembelajaran maka akan berpengaruh terhadap (1) kondisi psikologis peserta didik (2) menciptakab iklim pembelajaran yang humanis (3) meningkatkan efektivitas komunikasi edukatif serta (4) menanamkan nilai karakter dan etika berbahasa
Pemahaman tentang eufimisme perlu dimiliki oleh pendidik, khususnya guru bahasa Arab. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai model penggunaan bahasa yang baik dan benar. Dengan demikian, eufimisme dapat dijadikan sebagai strategi pedagogis dalam pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kognitif, afektif, dan karakter siswa.

Penulis: Zahir Zarir, M.Pd
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Jabatan: Wakil Kepala Madrasah Bid. Kesiswaan

0 Komentar

Kontak Admin Web

Jika anda punya beberapa pertanyaan seputar Madrasah kami, seperti tentang kegiatan akademik, pendaftaran, seputar alumni, anda bisa mengirim pesan kepada admin harian kami.

Kontak Kami

Popup Image
Anda dapat mengirim pesan langsung kepada kami, silahkan pilih siapa yang ingin anda hubungi:

Kontak WA Bawah - Admin Madrasah

Kontak WA Bawah - Rifqy Muhammad

tentukan kepada siapa anda mengirim pesan!
Assalamualaikum Warohmatulloh Wabarokatuh